Teknik Usaha Budidaya Kedelai yang Menguntungkan dan Prospektif

Diposting pada

Setiap tahunnya indonesia mengimpor puluhan ribu ton kedelai. Dikarenakan kedelai dijadikan bahan dasar pembuatan tahu dan tempe dan menjadi lauk masyarakat Indonesia. Harga dari tahun ke tahun semakin naik, alangkah baiknya budidaya kedelai secara intensif di lahan sendiri pastilah akan lebih menguntungkan.

 

Rencana budidaya kedelai secara serentak oleh pemerintah sudah lama, sampai sekarang masih kekurangan lahan untuk menanam secara masif, berikut ini adalah teknik menanam kedelai dari tanam sampai panen rekomendasi  oleh pertanian dan perkebunan:

 

Budidaya Usaha Kedelai:  Iklim

Kedelai merupakan tanaman yang hidup di daerah sub tropis dan bisa beradaptasi dengan baik di daerah tropis dan dapat tumbuh baik di antara garis lintang 0º – 52º, dengan curah hujan diatas 450 mm dalam setahun, suhu optimal 25º – 30º C penyinaran penuh dengan minimal 10 jam perhari, standar kelembaban  rata-rata 65%. Penanaman dengan ketinggian lebih dari 750 m dpl (meter dari pemukaan laut pertumbuhan bisa terhambat dan masih dapat berproduksi dengan baik pada ketinggian 110 m dpl, maka dari itu sebaiknya ditanam pada bulan-bulan kering tetapi air tanah masih cukup tersedia dan untuk pencegahan terjadinya akumulasi hama di suatu daerah baiknya penanaman dirotasikan dengan tanaman lain.

 

Budidaya Kedelai:  Tanah

Kedelai dapat tumbuh di berbagai jenis tanah asalkan drainase dan aerasi tanah lumayan cukup baik. Terecuali untuk tanah PMK (podzolik merah kuning) dan tanah yang banyak terkandung pasir kuwarsa, maka pertumbuhan akan kurang bagus. PH tanah yang cocok untuk tanaman kedelai ini adalah sekitar 5,8 sampai 7,0 tetapi pada pH 4,5 pun masih bisa menghasilkan biji buah. Pemberian kapur 1 – 2,5 ton per ha (hektar) pada tanah dengan pH dibawah 5,5 pada umumnya bisa menaikan hasil panen.

Untuk memperbesar peluang keberhasilan, di daerah-daerah yang belum ditanami kedelai perlu diinokulasi dengan bakteri RHIZOBIUM. Kini sudah ada rekomendasi oleh Badan Litbang Deptan yaitu inokulasi Rhizoplus dan telah ada juga produk pupuk hayati terbaru yakni : Bio P 2000 Z yang mana berdasar hasil demontrasi di banyak lokasi dapat meningkatkan produksi secara pasti.

 

 

Budidaya Kedelai: Teknologi Pra Panen dan Pasca Panen

a. Benih :

Baca :  Teknologi Penerapan PTT Budidaya Kedelai Cepat Target Panen

Varietas yang ditanam adalah varietas unggul di lokasi tersebut dengan kebutuhan benih sekitar 50 kg/ha biji kecil (±600.000 butir) dan 80 kg/ha untuk biji besar (±600.000 butir). Varietas umur genjah (70-80 hari), varietas sedang berumur >80-90 hari dan varietas dalam berumur > 90 hari. System pengadaan benih dapat pula dengan pola JABALSIM (jalinan benih antar lapang dan antar musim)

 

b. Penyiapan Lahan :

Lahan cukup dibersihkan dan dibuat saluran drainase dengan jarak 3 meter untuk menghindari genangan  air. Pada lahan tegal diolah hingga gembur (olah tanah sempurna), dibuat bedengan 2-3 meter atau teras dengan batas pematang.

 

c. Tanam :

 Penanaman optimal 7 hari setelah panen padi sawah dengan perlakuan benih seed treatment antara lain dengan 10 gram Marshal/kg benih untuk pencegahan hama lalat kacang. Jarak tanam 40 x 10 cm atau 20 x 20 cm, jumalh benih 2-3 biji/lubang. Jumlah lubang 250.000/ha, populasi optimal 450.000 tanaman/ha. Inokulasi PMMG Rhizoplus dosis 150 gram/ha atau dengan Bio P 2000 Z.

 

d. Pemupukan :

Pada tanah sawah yang cukup subur saat tanam diberikan 50 kg Urea/ha untuk pemicu awal pertumbuhan.

•    Tanah grumusol perlu dipupuk 50 kg Urea + 75 kg TSP + 75 kg KCL/ha.
•    Tanah hidromof seperti pantai utara Jawa Barat dipupuk 100 kg Urea + 75-100 kg TSP + 100 kg KCL/ha.
Dengan adanya teknologi hemat biaya PMMG (pupuk mikroba multiguna) rhizoplus dengan dosis 150 gram/ha dapat menghemat penggunaan pupuk N maupun fosfat yaitu : tanpa pemupukan N dan penghematan 50% pupuk fosfat, sedangkan KCL diberikan sesuai anjuran setempat. Untuk lahan kering diberi pupuk kandang 3-5 ton/ha dan lahan kering bereaksi masam diberi kapur pertanaman 0,5-2,5 ton/ha agar memperoleh hasil yang maksimal.

 

e. Anjuran Pupuk Lainnya yang telah masuk KUT :

pupuk Fused Magnesium Phosfat (FMP) untuk kedelai dianjurkan dosis 100 kg/ha dan di lahan bukaan baru dengan dosis anjuran 500 kg/ha.

f. Penyiangan :

Penyiangan pertama dilakukan ± 3 minggu setelah tanam dan kedua ± 6 minggu setelah tanam, pada daerah yang sukar tenaga dapat digunakan herbisda pra tumbuh.g. Pengairan :

Tanaman perlu diairi ( di lab 1x dalam 2 minggu mulai saat pertumbuhan hingga pembungaan dan pembentukan polong ). Jika tidak dapat dengan cara leb maka dilahan kering dilakukan penyiraman jika diperlukan.

Baca :  Cara membuat dan Manfaat Bakteri Fotosintesis PSB Ala Petani Thailand

 

h. Pengendalian Hama dan Penyakit :

Penggunaan insektisida disesuaikan dengan keperluan jika serangan hama telah mencapai ambang ekonomi. Nilai ambang ekonomi beberapa hama adalah, lalat kacang : 2%, Perusak daun 12,5 %, kerusakan oleh berbagai ulat atau lebih ditemukan 2-5 ekor ulat muda pertanaman, khususnya pada periode menjelang berbunga sampai pengisian polong, perusak : 2% serangan. Pengamatan hama dilakukan pada periode kritis, yaitu 7, 20, 45 dan 60 hari. Pengendalian penyakit pada umur 30 hari jika terdapat karat daun perlu disemprotkan fungisida tapi jika penyakit karat menyerang pada umur 70 hari tidak perlu dikendalikan Karena tidak berpengaruh pada hasil.

 

i. Penggunaan Alsintan :

Traktor digunakan untuk mempercepat pengolahan tanah. Pompa air aksial dan centrifugal membantu pengairan tanaman 1 kali dalam 2 minggu. membantu kegiatan pengeringan dan perontokan kedelai pasca panen.

j. Teknologi Pasca Panen :

Umur kedelai berkisar antara 72-90 hari tergantung varietas. Pada saat panen ditandai dengan daun berwarna kuning kecoklatan hitaman dan rontok serta batang bawah kering, kondisi normal kadar air berkisar 20-24%. Panen bisa dengan cara memotong batang kedelai dengan alat sabit bergerigi. Sebaiknya tanaman tidak tercabut agar bintil akar Rhizobium tetap dalam tanah sebagai pupuk.

Hasil pemotongan seharusnya dipisahkan tingkat kematangannya, dikumpulkan agar tidak tercecer. Proses pengeringan lakukanlah sampai kadar air 17% setelah pembijian dilakukan pengeringan lagi hingga 14% pada musim hujan pengeringan dibantu dengan peralatan dryer. Untuk penyimpanan ditutup rapat udara dan biji kedelai kering (kadar air 9-14%) disimpan dalam kaleng yang dilapisi dengan bahan-bahan yang menyerap air / kelembaban (antara lain bubuk arang).

Tentunya dengan teknik budidaya kedelai intensif akan lebih menguntungkan petani dan tidak perlu impor dari negara lain. Jaya petani Indonesia