KopiPerkebunan

Primadona Aroma Kopi Nusantara Jadi Komoditas Ekspor Utama

Dalam laporannya dari World Economic Forum 2019, penulis senior Sean Fleming menyatakan bahwa ‘meskipun hanya segelintir negara yang mendominasi produksi kopi, dia dikonsumsi dalam jumlah besar hampir di semua tempat di planet ini; sekitar dua miliar cangkir diminum setiap hari.’ Gambaran tersebut menunjukkan bahwa kopi menjadi komoditas yang memiliki potensi tinggi di dalam lingkaran industri, khususnya makanan dan minuman.

 

Trend Pengusaha dan Penikmat Kopi Mania di Indonesia

Tak perlu jauh menilik pasar global untuk mengendus aroma magnet bisnis kopi yang kian menjamur.  Semerbak bisnisnya kini ada di sekitar kita.

Dukungan untuk industri kopi di Tanah Air pun rasa-rasanya makin semarak. Komoditas yang sebelumnya lebih banyak menjadi produk ekspor tersebut kini memiliki tempat tersendiri di pasar domestik. Konsumsi kopi di dalam negeri juga kian tinggi.

 

Baca juga:

Kopi Mandailing Sumatera Cita Rasa Kopi Terbaik Dunia

Kopi Asal Papua Ini Ternyata Ampuh Cegah Kanker

Primadona Kopi Terbaik Dunia Ada Di Indonesia

Data dari Interna onal Coff ee Organiza on (ICO) pada 2018 menyatakan bahwa Indonesia masuk ke dalam daftar negara pengonsumsi kopi terbesar di dunia pada urutan keenam, mencapai 4,6 juta—dalam satuan karung 60 kilogram—selama periode 2016/2017.

Baca Juga :  Dahsyatnya Manfaat Semangka Untuk Kesehatan

Posisi tersebut di bawah Uni Eropa (42,6 juta), Amerika (25,8 juta), Brasil (21,2 juta), Jepang (7,9 juta), dan Rusia (4,6 juta). Pada periode yang sama, Indonesia tercatat sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia di bawah Brasil, Vietnam, dan Kolombia.

Jika dilihat dari data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, sejak 2002 produksi kopi dalam negeri mencapai lebih dari 600.000 ton per tahun di mana lebih dari 70% produksinya untuk pasar luar negeri. Hingga 2017, Sumatra merupakan lumbung kopi Indonesia dengan produksi mencapai 514.000 ton atau sekitar 71% produksi kopi nasional. Ada  ga varian kopi yang populer di pasar komersial di dalam negeri yakni arabika, robusta, dan liberika.

 

Kopi robusta mendominasi pasar kopi lokal dari pada Arabika

Kopi robusta mendominasi pasar kopi lokal sekitar 70% yang diserap oleh industri kopi instan. Kopi arabika dengan cita rasa lebih pahit dihasilkan sejumlah wilayah a.l. Lampung (Sumatra), Bali, Jawa, dan Nusa Tenggara.

Sementara itu, kopi arabika dengan rasa khas asam lebih banyak diseduh di kafe atau kedai kopi. Varian yang populer a.l. diproduksi di wilayah Gayo, Toraja, Wamena, Bali, Flores, Temanggung, Banyuwangi, dan Jawa Barat.

Baca Juga :  Tomat Matang Bisa Jadi Obat Luka Bakar Ampuh, Berikut Caranya

Untuk jenis kopi liberika yang merupakan tanaman kopi endemik dari Afrika, mudah ditemukan di Riau, Bengkulu, dan Jambi. Kini, perputaran bisnis kopi dari hulu ke hilir tak begitu panjang. Mekanisme pasar bisnis kopi secara umum terbagi menjadi dua. Pertama, petani menjual langsung ke pembeli tanpa diproses. Kedua, petani melalui koperasi atau kelompok, menyalurkan produksi ke kafe dan kedai kopi dan sebagian diekspor. Selain menjamurnya kedai kopi dan brand kopi kekinian, geliat pasar komoditas kopi di dalam negeri juga ditandai dengan makin banyaknya kegiatan seperti festival, seminar, serta kompetisi yang mengusung tema kopi.

 

Kompetisi Asosiasi Dunia Kopi Nusantara

Berbagai aktivitas tersebut sering kali menerapkan pola see-do-buy sehingga menjadi ajang pertemuan antara pelaku industri melibatkan petani, pemerhaan dan penikmat kopi, pebisnis, hingga lembaga keuangan. Edukasi soal kopi makin diminati .

Asosiasi Kopi Spesial Indonesia menyatakan, kopi jenis ini berkualitas terbaik dengan penilaian di atas 80 oleh juru cicip (quality grader) bersertifi kat standar internasional.

Secara sederhana, penilaiannya meliputi , pertama, metode pengujian dan pemeriksaan fi sik kopi. Kedua, pengujian cita rasa. Dalam beberapa tahun terakhir, persentase jumlah kopi specialty di Indonesia terus meningkat dari hanya 3% dari total produksi kopi dalam negeri pada 2016, pada 2019 naik menjadi 7%—8% dan diyakini terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang.

Baca Juga :  Manfaat Limbah Karbit Sebagai Pestisida dan Pupuk Tanaman

 

Peningkatan itu didorong oleh beberapa hal misalnya pengetahuan tentang kopi specialty yang meluas, mulai banyaknya kopi Nusantara dalam kompetisi internasional, juga kehadiran kedai kopi kekinian yang seolah-olah tak terbendung. Fenomena ini juga menjadi perhatian Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk meningkatkan merek kopi Nusantara secara global.

Lembaga pemerintah ini mengampanyekan sekaligus meluncurkan logo Kopi Indonesia sebagai identitas kopi Nusantara. Bekraf pun menyediakan paket insentif demi mendorong sebaran Kopi Indonesia makin mendunia. Para pakar kopi bilang, untuk menghasilkan secangkir kopi yang sempurna, maka proses yang baik harus dimulai sejak dari hulu. Penyajian kopi bisa memilih espresso based menggunakan mesin penyeduh atau manual brew, seduh tanpa mesin otomatis.Namun, kadang-kadang tak selalu harus memahami se ap detail untuk menikma secangkir kopi. Kenikmatan itu datang dari hati . Selamat meracik biji kopi negeri ini./PAMUJI TRI NASTITI-bisniscom

Tags

agro

Iklan dan Review produk, anda bisa menghubungi agroniagacom@gmail.com

Related Articles

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close