Indeks

Langkah-langkah dan Komponen Teknologi Terbaru Menanam Kedelai Hingga Panen

Berikut adalah langkah-langkah dan komponen teknologi terbaru ketika menanam kedelai sampai Panen dan pasca panen:

1. Penyiapan lahan

Pengolahan tanah tidak diperlukan jika kedelai ditanam pada lahan sawah bekas tanaman padi, jerami dapat digunakan sebagai mulsa. Mulsa berguna untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi serangan lalat bibit, dan menekan pertumbuhan gulma.

Pada lahan kering, pengolahan tanah perlu optimal agar tanaman kedelai dapat tumbuh dengan baik. Pengolahan tanah dilakukan dua kali yaitu pembajakan dan penggaruan (perataan). Gulma atau sisa tanaman dibersihkan pada saat pengolahan tanah.

 

2. Pemupukan sesuai kebutuhan

Takaran pupuk berbeda untuk setiap jenis tanah, berikan berdasarkan hasil analisis tanah dan sesuai kebutuhan tanaman. Pupuk diberikan secara ditugal di sebelah lubang tanam atau disebar merata pada saat tanah masih lembab. Kedelai yang ditanam setelah padi sawah umumnya tidak memerlukan banyak pupuk.

Penggunaan pupuk hayati seperti bakteri penambat N (Rhizobium) disesuaikan dengan kebutuhan,2 perhatikan waktu kadaluwarsa pupuk hayati.

PUTK (Perangkat Uji Tanah Kering) dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam menetapkan takaran pupuk dan amelioran.

Tanaman kedelai memerlukan hara yang cukup untuk dapat berproduksi tinggi, baik yang telah tersedia di tanah atau melalui pemupukan.

 

3. Pemberian bahan organik

Bahan organik berupa sisa tanaman, kotoran hewan, pupuk hijau dan kompos (humus) merupakan unsur utama pupuk organik yang dapat berbentuk padat atau cairan. Bahan organik bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah. Persyaratan teknis pupuk organik mengacu kepada Permentan No. 02/2006, kecuali diproduksi untuk keperluan sendiri.

Pemberian pupuk organik dalam bentuk dan jumlah yang tepat berperan penting untuk keberlanjutan sistem produksi kedelai. Kotoran sapi yang telah matang merupakan pupuk organik yang potensial digunakan pada tanaman kedelai.

 

4. Amelioran pada lahan kering masam

Penggunaan amelioran ditetapkan berdasarkan tingkat kejenuhan Alumunium (Al) tanah dan kandungan bahan organik tanah. Kejenuhan Al memiliki hubungan yang kuat dengan tingkat kemasaman (pH) tanah.

Lahan kering masam perlu diberi kapur pertanian (dolomit atau kalsit) dengan takaran sebagai berikut:

– pH tanah 4,5-5,3 sebanyak 2,0 t kapur/ha.

– pH tanah 5,3-5,5 sebanyak 1,0 t kapur/ha.

– pH tanah 5,5-6,0 sebanyak 0,5 t kapur/ha.

 

5. Pengairan pada periode kritis

Tanaman kedelai memerlukan air yang cukup selama pertumbuhannya. Pada kondisi kelebihan air dan kekeringan, tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.

Periode kritis tanaman kedelai terhadap kekeringan mulai pada saat pembentukan bunga hingga pengisian biji (fase reproduktif ).

Pada lahan sawah, pengairan diberikan secukupnya menjelang tanaman berbunga dan fase pengisian polong.

 

6. Panen dan pascapanen

Panen dilakukan jika tanaman sudah masak, atau 95% polong telah berwarna coklat dan daun berwarna kuning.
Brangkasan kedelai segera dihamparkan dan dijemur dengan ketebalan sekitar 25 cm.

Biji dirontok setelah brangkasan kering, secara manual atau menggunakan thresher (perhatikan kecepatan silinder perontok dan kadar air biji).

Panen tepat waktu dan penggunaan alat-mesin untuk merontok biji akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.